Sang Pendidik

menjadi pendidikLelah masih terasa di badan, dingin pun masih menyelimuti. Rasanya tidak ingin beranjak dari tempat tidur ini. Masih ingin meringkuk di bawah selimutku tapi matahari sudah merangkak naik dan terdengar suara yang tiap hari memanggil namaku, membangunkanku dari tidur. “Nurul…!!! ayo bangun sayang…nanti telat ke sekolah..!”, suara ibu begitu lantang terdengar.

Akhirnya kupaksakan diri untuk bangun dan bergegas mandi. “Wuiih…segarnya air ini, membuat lelah dan kantukku hilang seketika”, gumamku dalam hati.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku pun segera menemui ibu di ruang makan, tidak sabar mencicipi sarapan buatannya dan berkumpul dengan ayah juga saudara-saudaraku. Meskipun hanya secangkir teh hangat dan kue buatan ibu, tapi cukuplah untuk mengganjal perutku sampai jam istirahat di sekolah bedering. Selesai sarapan aku pun pamit pada ibu dan ayah lalu berangkat ke sekolah. Senang rasanya karena pagi ini adalah hari pertama aku bersekolah di SMA.

Aku adalah anak kedua dari keluarga Herlina dan Abd. Kasim, mereka adalah kedua orang tuaku. Aku 8 orang bersaudara,  2 adikku masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama(SMP) sementara kelima kakakkku yang lain sementara studi di pegururan tinggi. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga sedangkan ayahku bekerja sebagai guru di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Rasanya sulit membayangkan bagaimana ayahku mampu menyekolahkan saya dan ketujuh saudaraku yang lain hingga ke perguruan tinggi, tapi mukjizat itu nyata adanya…

Hingga saat ini aku merasa bersyukur masih bisa bersekolah hingga SMA. Awalnya aku tidak ingin melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya, gaji ayahku rasanya tak cukup untuk membiayai saya, terlebih ke lima kakak laki-lakiku sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, tapi waktu itu ayah bersikeras untuk menyekolahkanku. Ia ingin anak-anaknya memperoleh pendidikan yang layak, hingga ia dan ibu berjuang keras untuk mencari penghasilan tambahan untuk biaya kuliah kakak juga biaya sekolahku dan adik-adikku.

Saat ini ibuku mencari penghasilan tambahan dengan berjualan kue, sedangkan ayah sepulang mengajar di sekolah, ia mencari tambahan penghasilan dengan menerima jahitan di rumah. Melihat kegigihan mereka berdua, aku pun tidak ingin bermalasan- malasan bersekolah. Dari kecil, ibu dan ayah memang mendidik kami berdua agar tidak menjadi orang yang lemah karena kehidupan ini jalannya tidak selalu mulus terkadang jalannya terjal dan penuh liku “ Pesan kedua orangtuaku untuk menyemangati anak-anaknya”. Kedua orang tuaku ingin anak-anaknya tumbuh dewasa menjadi orang yang tegar menghadapi segala rintangan, tidak cengeng ataupun pesimis karena setiap masalah pasti ada solusinya.

Akhirnya aku sampai juga di sekolah baruku, senang sekali punya teman-teman baru yang ramah dan guru-guru yang bersahaja. Kegiatan di sekolah berjalan lancar hingga waktu pulang sekolah tiba. Aku pun segera pulang kerumah karena ingin menikmati makan siang buatan ibu lalu membantunya membuat kue. Ayah dan kakak juga pasti sudah ada dirumah. Di sela waktu makan siang, aku menanyakan pada ayahku kenapa ia memilih bekerja sebagai guru ketimbang bekerja di kantoran.

“Yah, kenapa sih ayah mau bekerja jadi guru daripada kerja di kantor…?”

Bukankah menjadi pegawai bank, direktur, atau mungkin anggota dewan itu lebih menjanjikan hidupnya” Tanyaku agak kesal terhadap keadaan keluargaku sekarang….. !!!

Ayah menjawab dengan rendah hati, penuh harapan.

“ Bukankah dahulu pegawai bank dan direktur itu tak mengerti dan tak tahu apa2, lantas siapa yang mengajarinya, hingga mampu dan bisa”…. ?

Aku mencoba menelaah peryataan ayahku, namun aku tak mampu mengerti…mungkin karena usiaku yang masih 16 tahun ini.

Kuberanikan diri untuk kembali bertanya, walau agak ragu sedikit takut.

a..a..a..pa maksudnya yah…???

Suaraku keluar dengan penuh rasa takut.

Ayah memegang kepalaku sambil tersenyum lembut, menjelaskan dengan penuh kelembutan sambil menelan sisa makanan yang masih ada di mulutnya.

“ Seorang dokter tak kan bisa menjadi seorang dokter sekiranya tak ada guru yang mengajarinya di masa sekolahnya dahulu.”

“Menjadi pendidik seperti guru itu bukan pekerjaan yang biasa tapi luar biasa dan sangat mulia, Bukankah pekerjaan yang mulia itu akan menjadi amal jariyah di sisi Allah? Dan ingatlah nak, kekayaan bukan di ukur dari materi dunia saja, tapi lebih dari itu.”

Jawab ayah lantang sambil tesenyum…”

Untuk lebih menyakinkanku, Ayahku pun bercerita kenapa ia mau menjadi guru

“Dahulu ayah tinggal dan bersekolah di desa yang terpencil, jauh dari kota. Disana sekolahnya juga tidak sebagus disini tapi ada hal yang selalu membuat ayah tetap ingin bersekolah yaitu guru-gurunya. Salah satu guru yang menjadi inspirasi dan penyemangat ayah waktu itu adalah Pak Umar. Beliau adalah guru Matematika, ia tinggal di kota namun hidup dengan sederhana. Pagi-pagi buta ia berangkat ke sekolah untuk mengajar murid-muridnya yang tercinta meski ia harus menempuh jarak yang sangat jauh sekali dengan sepeda tuanya yang telah using dimakan usia. Beliau sangat ramah terhadap murid-muridnya, tidak pernah sekalipun ayah melihat ia memarahi murid-muridnya jika tidak mengerti apa yang telah diajarkannya. Beliau selalu membimbing dan mengarahkan kami hingga kami mengerti. Pernah sekali juga ayah melihat beliau memberikan uang kepada salah satu muridnya yang saat itu belum melunasi spp selama 3 bulan. Ia rela memberikan setengah gajinya untuk muridnya agar tetap bisa melanjutkan sekolah walaupun saat itu beliau hidup pas-pasan dengan gaji yang ia terima.  Ia tidak ingin murid-muridnya putus sekolah hanya karena terganjal biaya sekolah. Pak Umar memang guru yang bijaksana dan dermawan.”

“Waktu sekolah dulu  ayah mengikuti lomba Matematika tingkat Sekolah Dasar dan Pak Umar yang menjadi guru pendamping tim kami saat itu. Beliau sangat antusias mengajar dan membimbing kami saat itu, beliau sangat berharap tim kami nanti bisa menang. Setiap hari Pak Umar mengajarkan kepada kami trik-trik menjawab soal dengan cepat dan mudah. Kami sangat senang didampingi oleh beliau, belajar Matematika rasanya tidak sulit lagi. Tapi ada suatu hal yang membuat kami sedih karena tiba-tiba Pak Umar sakit dan tidak bisa mendampingi kami di saat-saat lomba sudah akan dimulai. Tapi sebagai ketua tim, ayah menyemangati teman-teman yang lain agar berusaha dengan keras untuk menang di lomba nanti. Kita tidak boleh mengecewakan perjuangan Pak Umar yang telah membagi ilmunya kepada kita.”

” Syukur alhamdulillah, akhirnya tim sekolah kami pun menang. Perjuangan Pak Umar ternyata tidak sia-sia. Kami pun segera menemui Pak Umar di rumahnya, namun kami begitu sedih mendengar kabar bahwa Pak Umar telah tiada. Piala yang ayah pegang saat itu pun jatuh ke tanah, dengan linangan air mata ayah segera menemui Pak Umar yang sudah terbaring beku. Kami telah kehilangan seorang sosok guru yang baik hati, dermawan dan bersahaja. Tidak ada yang bisa menggantikan sosok beliau di hati kami. Bagi kami, Pak Umar adalah guru terbaik kami dan tidak ada duanya.”

“Kasian sekali ya Pak Umar itu, Yah”, ucap Nurul pada ayahnya. “Itu bukan kasian namanya Nak, tapi ketulusan dan keikhlasan hati dari seorang pendidik yang membuahkan hasil”, kata ayah.

Ayah pun melanjutkan ceritanya, “ Sejak saat itu, ayah bercita-cita ingin menjadi guru karena di mata ayah pekerjaan sebagai guru itu begitu mulia dibanding pekerjaan yang lainnya”, ucap ayah dengan bangga. Menjadi pendidik generasi-generasi penerus bangsa adalah keinginan terbesar ayah dan bagi ayah itu pekerjaan yang menyenangkan, lanjut ayah.

Suasana makan siang saat itu terasa sangat panjang dan penuh makna bagiku.

Aku kembali meneruskan makanku, yang masih tersisa di piringku. Merenungi setiap kata yang keluar dari mulut ayahku. Memejamkan mata tertunduk lesu mengarah ke meja makan. Kembali mengingat dan mengenang kisah ayah tercinta.  Tak terasa air mataku mengalir ke pipi dan menerus, menetes membasahi meja makan.  Aku menyesali setiap ego dan ambisiku serta anganku terhadap ayahku tercinta akan profesinya sebagai guru.

Aku tersenyum indah dengan sepenuh rasa bangga, salut  atas ayah yang telah menjadi seorang guru, sang pendidik sejati. Menjadikan waktu dan tenaganya  totalitas untuk pendidikan dan mencerdaskan anak-anak bangsa.

Tekad dan semangat ini makin membumbung tinggi, berusaha mencintainya dengan sepenuh jiwa. Memahami sepenuh hati yang tulus, sang pendidik yang mulia dan memuliakan manusia, yang terus akan di kenang sepanjang masa sampai bumi tak lagi berpenghuni. “Sang pendidikku tercinta”

bahwa menjadi pendidik seperti guru itu bukan pekerjaan yang biasa tapi luar biasa dan sangat mulia..

 
Referensi :

http://jaranwesi.wordpress.com

http://id.wikipedia.org

This entry was posted in Kompetisi Blog SSE 2012 and tagged , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Sang Pendidik

  1. Andi says:

    Bagus ceritanya, knapa nda jadi guru saja dulu😀

  2. bolong says:

    sangat mengharukan…
    semoga Allah memberimu kebaikan”

  3. rimo says:

    sedih membaca artikel ini, semoga ada yang bisa membantumu dalam pemberian dana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s